Senin, 07 April 2008

Jadikan Kejadian Nyata Sebagai Sumber Pembelajaran

Mengajar dengan hanya textbook kayaknya sudah bukan jamannya lagi. Guru harus mengambil permasalahan dari dunia nyata. Contohnya pengajaran ekonomi, jagan hanya memberikan teori-teori ekonomi, tetapi ajak siswa untuk menganalisa kondisi lapangan.
Ajak ke pasar, surve harga, analisa harga beberapa hari/minggu. Kemudian ajak diskusi. Kalau cara begini insyaallah siswa akan cerdas dengan sendirinya. Bahasa Inonesia pun demikian. Mengajar puisi tidak perlu banyak teori. Bila perlu teori suruh belajar sendiri, langsung kasih tugas bikin puisi sekaligus membacanya. Jadi indah lho.

Silakan coba

Sabtu, 05 April 2008

SBI Bukan Hanya Bahasa

Suhadi Soroti Kekurangkreatifan di Sekolah



KEDIRI - Penyakit kurang kreatif. Kondisi itulah yang menghinggapi rata-rata sekolah di Indonesia saat ini. Bukan hanya siswa saja yang minim kemampuan berkreasi dalam proses pembelajaran. Guru pun juga terjangkit penyakit seperti itu. Suhadi Fadjaray, trainer sumber daya Manusia (SDM) dari Indonesia Trans Consulting, menyodorkan buktinya.



Saat tampil di depan ratusan guru yang mengikuti workshop Pembelajaran Inovatif Berprespektif Global di Hotel Lotus Garden kemarin, dia memberi contoh ekstrem ketidakkreatifan yang selama ini tak disadari. "Anak-anak (didik, Red)-nya menggambar pemandangan? Ada gunungnya dua? Mataharinya berambut? Sawahnya kotak-kotak?" tanya mantan pengajar di sejumlah sekolah internasional itu kepada para peserta."Se Indonesia gambarnya begitu. Dari sebelum zaman saya sampai sekarang ya itu yang digambar. Apa tidak ada gambar lain untuk diajarkan ke siswanya?" kritiknya dengan berapi-api, yang disambut tawa riuh dan geleng-geleng kepala oleh para guru yang memadati hall hotel tersebut sejak pukul 09.00.



Dalam workshop yang digelar Lembaga Pengembangan SDM Mandiri Sejahtera dan Radar Kediri tersebut Suhadi berharap agar para guru tidak langsung menyalahkan siswa. Khususnya bila mendapati siswa yang sulit menangkap pelajaran. Tapi harus dicari sumber permasalahannya. "Karena disable learning (ketidakmampuan menangkap pelajaran, Red) atau disable teaching (ketidakmampuan mengajar, Red)?" tandasnya.Menurut Suhadi, bila tidak ada kreativitas dalam mengajar, akan berdampak pada siswa didik. Mereka jadi sulit menangkap pelajaran yang disampaikan guru. Ironisnya, selama ini yang disalahkan selalu murid. "Muridnya yang dimarah-marahi. Sudah mbundeli (tak paham, Red) dimarahi gurunya, padahal gurunya yang mbundeli," kata mantan captain teacher Sekolah Ciputra yang sekarang malang melintang di bidang konsultasi, penelitian dan pelatihan SDM itu.



Sekarang sudah saatnya bagi guru di Indonesia menerapkan pembelajaran berstandar internasional. Yang mengedepankan kreativitas, baik dari siswa maupun guru. "Meskipun sekolah inpres yang ada di desa, tapi sistem pembelajaran harus berstandar internasional," ujarnya.Hanya, selama ini ada sedikit kesalahan pemahaman. Karena standar internasional selalu diidentikkan dengan penggunaan bahasa Inggris dan teknologi. "Kalau menggunakan bahasa Inggris atau menggunakan laptop, katanya sudah standar internasional. Padalah tidak harus seperti itu," imbuhnya.

Selasa, 19 Februari 2008

Ajari Membaca Anak Anda Sejak Dini

Membaca merupakan kunci pengetahuan. Demikian kata beberapa ahli. Banyak metode diciptakan, tetapi tidak semua sesuai. Celakanya, beberapa pengawas TK melarang guru-guru untuk mengajar membaca. Alasannya, usia TK merupakan usia bermain. Anak jangan terlalu dibebani "mikir" berat.

Ya memang benar. Beberapa metode yang beredar meninggalkan dunia anak yang selalu fun. Ada metode baru yang pernah saya lihat sangat cocok untuk anak. Mereka memadukan permainan dengan membaca. Metode itu kemudian saya modifikasi dan terciptalah Metode Pengajaran Membaca QAF (Quick and Fun)

Prinsip metode QAF adalah membuat suasana fan (senang) pada anak saat belajar membaca. Seperti metode pengajaran membaca lainnya, QAF tidak mengenalkan huruf per huruf. Tetapi langsung suku kata.

Pada tahap awal, anak dikenalkan dengan kata lembaga a, da, ma, ta. Kalimat ini sudah sangat familiar ditelinga anak. Bahkan mungkin satu kali dikenalkan anak langsung bisa mengulang-ulang. Setelah setengah hafal suku kata lembaga tersebut, selanjutnya diacak urutannya.

Dalam aplikasinya memang tidak langsung dikenalkan dengan buku, tetapi menggunakan kartu ukuran folio. Langkah selanjutnya mengintegrasikan dengan permainan seperti gejlik, lari bendera/bola dll. Saat ini diuji coba di TK Pertiwi kampung saya. Ternyata hasilnya cukup menggembirakan. Buku yang coba saya susun sangat membantu anak menghafal bunyi suku kata yang telah dikenalkan. Dalam buku tersebut susunan suku kata juga terbaca dan diusahakan familiar ditelinga anak